Let’s travel together.

Wae Rebo, Pesona Kampung di atas awan

Wisata Wae Rebo, merupakan kampung tradisional yang sering dikatakan sebuah Kampung di Atas Awan. Letaknya di kecamatan Satarmese Selatan, Nusa Tenggara Timur. Keindahan alamnya yang sangat asri dengan kehidupan masyarakat yang masih tradisional, menjadi daya tarik para wisatawan untuk datang.

Wae Rebo Kampung di atas awan

Letaknya di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kampung Wisata Wae Rebo ini dikelilingi oleh indahnya perbukitan. Dari situlah sebutan Kampung di Atas Awan diberikan. Tidak salah lagi jika kampung ini menjadi salah satu tempat tujuan utama orang berwisata di Pulau Flores.

Tidak hanya wisatawan nusantara, namun ribuan wisatawan mancanegara pun ramai mengunjunginya. Bahkan, tempat indah ini justru lebih dikenal oleh wisatawan mancanegara. Kampung ini seolah berada diantara langit dan bumi dengan struktur dan bentuk rumah yang unik.

Baca Juga : 5 Tempat Wisata di Indonesia yang Mendunia Wajib Masuk Daftar Liburan Kamu

Keindahan Kampung di Atas Awan Wae Rebo memang menakjubkan, diselimuti oleh kabut tipis di seluruh perkampungan. Selain keindahan alamnya, keramahan penduduknya juga menjadi hal yang dirindukan para wisatawan.

Perjalanan Menuju Wae Rebo, Kampung di atas awan

Wisata Wae Rebo, Kampung Diatas Awan

Letaknya yang berada diketinggian tentu memerlukan perjuangan untuk dapat mencapainya. Lokasinya terbilang sangat terpencil dan terisolasi, karena berada di balik hutan sepanjang kurang lebih 9 km untuk dapat mencapai desa terdekat. Berikut kurang lebih gambaran perjalanan yang ditempuh jika berangkat dari Jakarta:

  1. Perjalanan dapat dimulai dengan pesawat dari Bandara Soekarno Hatta dan mendarat di Bandara Komodo, Labuan Bajo.
  2. Selanjutnya dari Labuan Bajo, perjalanan akan menuju Desa Denge yang merupakan desa terdekat. Dimulai dengan perjalanan darat sekitar 1 jam yang ditempuh dengan mobil, dan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 3 sampai 4 jam, dengan medan perjalanan tanah yang becek. Melanjutkan perjalanan selanjutnya menggunakan Truk kayu selama 5 jam. Perjalanan itu baru sampai di Desa Denge.
  3. Menuju Wisata Wae Rebo, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan ojek atau dapat juga terus berjalan kaki sejauh kurang lebih 7 km.

Perjalanan yang dilalui memang tidak mudah dan butuh kesabaran, namun keindahan yang dapat dinikmati di Kampung di atas awan ini sungguh sebanding.

Keunikan Rumah Adat Masyarakat Wae Rebo

Wisata Wae Rebo, Kampung di atas awan yang menyuguhkan keasrian alam dengan pemandangan gunung-gunung, berpadu dengan uniknya bangunan 7 rumah adat yang berbentuk kerucut, Mbaru Niang. Desa ini menawarkan kesempatan bagi wisatawan untuk ikut menikmati kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Bangunan rumahnya terdiri dari atap besar yang terbuat dari ijuk dibuat lebar menjuntai hampir menyentuh tanah. Perapian tersusun rapi di setiap rumah. Bentuk Mbaru Niang adalah kerucut di atapnya, melingkar yang berpusat di tengah. Bentuk tersebut melambangkan tali persaudaraan yang tidak akan putus di kampung tersebut, dengan titik pusatnya adalah leluhur mereka.

Rumah Mbaru Niang dibangun dengan tinggi sekitar 15 meter. Dalamnya memiliki 5 tingkat yang dibuat dari kayu worok dan bambu yang diikat dengan rotan. Masing-masing tingkat tersebut memiliki nama dan fungsinya.

  1. Tingkat pertama disebut lutur (tenda) yang berfungsi sebagai tempat tinggal utama untuk berkumpulnya keluarga.
  2. Tingkatan kedua adalah lobo yaitu sebuah loteng untuk menyimpan bahan makanan dan semua barang-barang keperluan sehari-hari.
  3. Di tingkat ketiga adalah lentar yang digunakan untuk menyimpan benih tanaman pangan.
  4. Tingkatan Selanjutnya adalah lempa rae yang digunakan untuk tempat menyimpan stok pangan jika terjadi kekeringan.
  5. Tingkat Terakhir adalah tingkat terakhir yang dinamakan hekang kode, fungsinya untuk menyimpan langkar, yaitu anyaman bambu persegi yang digunakan untuk meletakkan sesajian sebagai persembahan kepada leluhur.

Berlibur di Wisata Wae Rebo, Kampung di atas awan dapat dinikmati dengan merasakan bermalam di Niang Mbaru. Tidur beralaskan daun pandan yang dianyam serta bersosialisasi dan menikmati makan malam bersama dengan penduduk asli setempat. Tentunya menjadi pengalaman yang menarik.

Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...